Bukan Konate Yang Seharusnya Dirindukan Persib

0
800
konate-firman

Tercecernya Persib di papan tengah klasemen ISC 2016 merupakan sebuah mimpi buruk bagi tim sekelas Maung Bandung. Digadang-gadang merebut gelar juara, Persib malah kesulitan untuk membenahi kelemahan di dalam timnya. Salah satu kelemahan yang terlihat sejak dimulainya ISC 2016 ini ialah dalam menuntaskan serangan di sepertiga akhir lapangan. Kelemahan yang selalu berulang di tiap laga ini, tentunya membuat gerah bobotoh. Bahkan banyak sekali bobotoh yang berkeinginan agar manajemen Persib merekrut kembali legiun asing asal Mali, Makan Konate. Jika Konate kembali membela Maung Bandung, lalu siapakah pemain yang akan tersingkir? Pertanyaan ini tentunya sangat menarik untuk diulas.

Jika melihat posisi dan kuota legiun asing, tentu nama Robertino Pugliara bisa saja tersingkir. Lalu bagaimana perbandingannya dengan Konate? Pada mulanya, kedatangan Pugliara dimaksudkan untuk mengisi pos yang di tinggalkan Makan Konate atau Firman Utama. Tapi setelah gelaran ISC berlangsung 24 pertandingan, justru peran yang tadinya diemban Konate dan Firman malah diemban Pugliara seorang. Hal itulah yang membuat kebingungan di sepertiga akhir lapangan. Antara Pugliara-Kim yang biasa menghuni starter Persib di ISC 2016, tidak sebanding dengan Konate-Firman saat membawa Persib juara. Pembagian peranlah yang kurang terkordinasi, bukan kualitas Pugliara yang membuat Persib tercecer.

Untuk lebih jelasnya, dengan 3 hal berikut kita bisa melihat kualitas Pugliara.

  • Permainan Pugliara sejatinya begitu cair, sering kali dia terlihat di sisi kanan atau kiri penyerangan Persib. Bahkan seringkali Pugliara menusuk ke kotak penalti lawan untuk mengcover penyerang. Daya jelajah dan kualitasnya saat memegang bola sangat baik sekali. Hal ini lah yang menjadi senjata Makan Konate saat mengantar Persib menjadi Juara ISC 2014. Daya jelajah dan kualitasnya saat memegang bola.
  • Dengan daya jelajah yang tinggi, memungkinkannya untuk mencetak gol sangat tinggi. Bola pantul dari penyerang bisa dimanfaatkan dengat sebaik-baiknya. Inilah yang dilakukan Konate terhadap Coulibaly atau Ferdinand Sinaga. Pun dengan Pugliara, inilah yang dilakukannya terhadap van Dijk atau Belencoso di putaran I ISC 2016.
  • Pugliara sejatinya bukan pemain yang biasanya melakukan umpan jitu untuk memanjakan penyerang. Begitupun Konate, pengumpan biasanya banyak diemban oleh Firman Utina. Kelemahan Konate inilah yang mampu tercover dengan baik, sehingga kreativitas dari lini tengah tidak pernah terhenti. Berbeda dengan Persib yang dihuni Pugliara sekarang. Kelemahan ini justru ditanggung Pugliara seorang, Pugliara dituntut untuk tugas yang tadinya diemban 2 orang. Seharusnya, Kim Jefrey mampu mengcover ini. Tapi apa daya, justru karakter permainan Kim malah mendekati karakter dan peran Pugliara. Perlu ditekankan, ini bukanlah kesalahan pemain, tapi kombinasilah yang berbeda.

Dari 3 hal diatas, seharusnya Persib bukan merindukan Konate, biarlah Konate menjadi pujaan di Malaysia. Justru tipikal Firman lah yang perlu dicari Persib, karakter pemain yang mampu mengumpan jitu ke lini serang. Kemampuan seorang pengumpanlah yang akan melengkapi daya jelajah Pugliara hingga bisa menciptakan kreativitas tanpa henti dari lini tengah Persib. Berbicara soal sosok demikian, nama Dedi Kusnandar dan Evan Dimas Darmono sangat layak untuk diperhitungkan.

Rating: 4.5. From 2 votes.
Please wait...

LEAVE A REPLY